skip to main |
skip to sidebar
Posted by Septian Nugroho
Monday, October 14, 2013
0 comments

Kamis, 17 Juli 2008 merupakan momentum se-abad Tokoh Nasional Mohammad Natsir., tokoh yang menyelamatkan persatuan bangsa dan kesatuan Negara Indonesia dengan Mosi Integral-nya. Tentang siapa M. Natsir ini sudah banyak orang, baik di dalam ataupun di luar negeri yang mengenalnya, namun sayang beliau sudah mulai dilupakan olah sebagian besar rakyat Indonesia.
Dalam menyambut momentum se-abad ini banyak kegiatan yang diselenggarakan untuk membedah pemikiran ataupun perjuangan beliau sebagai salah satu pendiri bangsa ini., baik yang diselenggarakan oleh pemerintahan ataupun ormas sebagai apresiasi terhadap jasa-jasa beliau terhadap bangsa ini, misalnya pihak pemerintahan, Kamis (15 November 2007), di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, menggelar peluncuran panitia Refleksi Seabad M. Natsir: Pemikiran dan Perjuangannya dan puncak peringatan seabad M. Natsir pada tanggal 17 Juli 2008.
Natsir adalah seorang dzu wujuh, mempunyai banyak wajah dalam arti yang baik. Beliau adalah seorang guru bangsa, pendidik umat, mujahid dakwah, budayawan, politikus terdepan, dan seorang negarawan terkemuka dan dihormati di dalam dan diluar negeri. Dalam berbagai perannya tersebut, beliau meninggalkan bekas dan peninggalan yang amat bernilai untuk dikaji. Demikian pandangan Endang Saifuddin Anshari dalam pengantar buku Kebudayaan Islam Dalam Perspektif Sejarah (1988: vii)
M. Natsir ketika mudanya sudah mulai tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam. Tahun 1932, memasuki Studi Islam di Persatuan Islam (Persis) di bawah asuhan A.Hassan. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh Persis tampaknya sangat berpengaruh pada kepribadian M. Natsir kemudian. Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadits semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam.
M. Natsir mengambil kursus guru diploma LO (Lager Onderwijs). Maka, tahun 1932-1942 Natsir dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Islam (Pendis) Bandung.
Disamping itu M. Natsir juga belajar politik Islam dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan M. Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.
Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya. Beliau menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem (A.W. Pratiknya, Pesan Perjuangan Seorang Bapak, 1989: 26-33)
Pemikiran dan Perjuangan M. Natsir
Sejak semula Natsir bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942.
Di samping itu beliau rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya beliau membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang meng-kritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Pada 3 April 1950, sebagai anggota parlemen, Natsir mengajukan mosi dalam Sidang Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mosi itulah yang dikenal sebagai Mosi Integral Natsir, yang menjadikan bersatunya kembali 17 Negara Bagian ke dalam NKRI. Atas jasanya itu, Soekarno menunjuk Natsir sebagai Perdana Menteri RI pertama tahun 1950-1951.
Kegusarannya melihat Presiden Soekarno telah melanggar konstitusi dan tidak mau sadar mendorong M. Natsir, Syafrudin Prawira Negara dan Burhanudin Harahap mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) (Politik Melalui Jalan Dakwah, hal 43). Akibat salah persepsi berkenaan munculnya PRRI ini, mendorong Natsir dan kawan-kawan masuk teralis penjara.
Selepas kembali dari pengasingan-penjara- Natsir mengalihkan perjuangannya ke bidang dakwah Islamiyah. Tahun 1967 beliau mendirikan dan mengetuai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Kegiatan dakwahnya semakin mendekatkannya dengan masyarakat luas. Tidak hanya di dalam negeri namun mendorongnya untuk menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se-dunia (Muktamar Alam Islami) pada tahun 1967 dan anggota Rabithah Alam Islami pada tahun 1969 serta pendiri Dewan Masjid se-Dunia pada tahun 1976.
Namun, kebebasannya terenggut kembali ketika menjadi salah satu tokoh Petisi 50 karena Soeharto menganggap petisi itu membahayakan. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta tempat menerima tamu berkenaan kegiatan-kegiatan keislaman.
Penghargaan Untuk M. Natsir
M. Natsir adalah pahlawan bagi Indonesia juga dunia. Tahun 1957, Natsir menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Presiden Tunisia, Lamine Bey, atas jasa-jasanya dalam membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Tahun 1980, Natsir juga menerima penghargaan internasional (Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah) atas jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada Islam untuk tahun 1400 Hijriah. Natsir juga tercatat sebagai Ketua Badan Penasehat Yayasan Pembina Pondok Pesantren Indonesia.
Di bidang pemikiran, tahun 1991, Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia.
Natsir memang bukan sekedar ilmuwan dan penulis biasa. Tulisan-tulisannya mengandung visi dan misi yang jelas dalam pembelaan terhadap Islam. Ia menulis puluhan buku dan ratusan artikel tentang berbagai masalah dalam Islam. Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ulama besar India, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan juga kepada ulama dan pemikir terkenal Abul A’la al-Maududi. Karena itulah, hingga akhir hayatnya, tahun 1993, Natsir masih menjabat sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami dan anggota Majlis Ta’sisi Rabithah Alam Islami.
Namun, Jasa-jasa M.Natsir di dalam negeri serta penghargaan dari luar negeri terhadap perjuangan dan pemikiran M. Natsir, belum menggetarkan pemerintah Indonesia untuk menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh pemersatu bangsa, M.Natsir. Mungkin sebentar lagi!
0 comments:
Post a Comment