menuju pilpres 2014
PEMIMPINMU ADALAH CERMINAN KAMU
Dalam Islam jabatan dan kedudukan bukanlah semata-mata anugrah, tapi juga
amanah, yang harus dipertanggung jawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tapi terutama di hadapan
mahkamah Allah Yang Maha Adil kelak.
Jika seseorang mendapatkan jabatan dan kedudukan bukan dengan cara yang
haq , tapi dengan cara-cara bathil,
dengan menghalalkan segala cara, seperti
politik uang dengan segala macam bentuknya, dengan menyebar fitnah, dengan
menempuh cara-cara mistik dan syirik,
dsb. Kemudian setelah ia
menduduki jabatan dan kedudukan itu ia menipu, ingkar atas janji-janjinya, korup,
dan zalim , maka jabatan dan kedudukan itu hanya akan menjadi kehinaan dan
penyesalan di hari kiamat, dan ia akan diharamkan
masuk surga. Rasulullah saw. bersabda :
" Sesungguhnya jabatan itu adalah amanat, dan pada hari kiamat
akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali mereka yang mendapatkan jabatan
itu dengan cara yang haq ( atau ia orang yang paling berhak ) dan ia
menunaikan tugas dan kewajiban yang ada pada jabatan itu ( termasuk memenuhi
janji-janjinya ) " HR Muslim.
Dalam hadits lain Beliau bersabda : " Seorang hamba yang oleh Allah dipercaya
untuk memimpin sebuah bangsa, lantas ia mati, dan ketika memimpin ia
menipu ( zalim ) terhadap rakyatnya,
pasti Allah mengharamkan baginya masuk surga . " HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Hisyam bin Urwah meriwayatkan hadits
Nabi saw yang menyatakan bahwa pemimpin itu
ada yang baik, ( taqwa, jujur, adil , cerdas dan berakhlakul karimah )
dengan segala macam kebaikannya, dan ada pemimpin yang buruk, ( jahat, zalim, dan korup, ) dengan segala
macam keburukannya. Pemimpin bertaqwa akan selalu menghindarkan diri dari
perbuatan maksiat dan zalim. Pemimpin yang
jujur akan menumbuhkan kepercayaan rakyat dan jauh dari tindak korupsi
dan kolusi yang di negri ini sudah menjadi kejahatan luar biasa. Pemimpin yang
adil akan melahirkan ketentraman bagi seluruh rakyat dan mendatangkan berkah
dan rahmat Allah. Pemimpin yang cerdas dan visioner akan bisa membawa sebuah
bangsa ke arah yang lebih baik dan maju.
Pemimpin yang berakhlakul karimah akan menjadi panutan rakyatnya, dan akan
mendahulukan kepentingan rakyat dari pada kepentingan pribadi dan kelompoknya. Bagaimana
bisa seseorang bertindak jujur, jika ia lebih
percaya kepada mistik dan takhayyul dari pada iman kepada Allah swt ? Bagaimana ia bisa berbuat adil, mampu
menegakkan hukum, memberantas korupsi dan kolusi, dan munkarat lainnya, jika ia
naik menjadi pemimpin dengan uang hasil korupsi atau dengan dukungan
para koruptor, konglomerat hitam, atau Bandar togel ? atau ia mendapatkan jabatan dan kedudukan itu
dengan cara-cara kotor dan machiavelis ?
Bagaimana seorang pemimpin bisa membawa bangsanya menjadi bangsa yang
mandiri, jika ia lebih berpihak kepada kepentingan dan hegemoni asing dari pada kepada rakyatnya
sendiri ? dst. Pemimpin yang zalim,
jahat dan korup hanya akan membawa sebuah bangsa kepada kehancuran dan laknat Allah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Al-Baihaqi, Rasulullah swa. Menyatakan bahwa kondisi pemimpinmu mencerminkan kondisi
rakyat yang dipimpinnya. ( Kama Takunu Yuwalla 'alaikum ). Dalam kitab An-Nihayah hadits tersebut
dijelaskan bahwa jika rakyat beriman, beramal sholeh, jujur, dan cerdas ,
maka yang akan tampil sebagai pemimpin mereka adalah orang yang punya
karakteristik seperti itu. Tapi jika rakyatnya
terdiri dari orang-orang yang jahat, senang maksiat, senang merusak,
maka yang akan tampil sebagai pemimpin mereka juga manusia seperti itu. Bagi sekelompok santri tentu tidak akan
memilih koruptor sebagai pemimpin mereka. Sebaliknya bagi segerombolan
pencoleng tidak akan memilih ustadz sebagai pemimpin mereka, mereka pasti akan
memilih " Super pencoleng " . Nabi saw. pernah mengingatkan pula
bahwa barang siapa yang memilih seseorang sebagai pemimpin hanya atas dasar
ta'ashub ( fanatisme buta ) tanpa menjadikan
petunjuk Alah dan rasulNya
sebagai barometer, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan
orang-orang beriman ( HR. Muslim ).
Siapapun yang tampil memimpin bangsa ini
ke depan, akan menjadi cerminan kondisi dan kwalitas ilmu dan iman
mayoritas bangsa ini. Wallohu a'lam.
0 comments:
Post a Comment